Minggu, Mei 26, 2024
Berita TambangIndonesia Bisa Dapat “Durian Runtuh” dari Bahan Tambang Ini!

Indonesia Bisa Dapat “Durian Runtuh” dari Bahan Tambang Ini!

Staf Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Irwandy Arif mengatakan, pemerintah telah merencanakan untuk menyetop ekspor bauksit pada Juni 2023. Aturan ini tertuang dalam UU NO. 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba).

Berdasarkan data Kementerian ESDM, produksi bijih bauksit di Indonesia mencapai 25,8 juta ton pada 2021. Namun sayangnya, penyerapan bauksit di dalam negeri hanya sebesar 2,6 juta ton. Selebihnya itu diekspor.

Melihat sedikitnya bauksit yang bisa diolah di dalam negeri, Irwandy menilai apabila hilirisasi bauksit digencarkan dan berhasil diproduksi menjadi aluminium, maka pendapatan negara ini akan melesat jauh lebih tinggi.

Jika melihat kepada harga pasar, harga aluminium saat ini berkisar di angka US$ 2,000 per ton. Ini berbeda jauh bila hanya mengekspor bijih bauksit, karena harga bijih bauksit di pasar komoditas internasional kini hanya sekitar US$ 70 per ton.

Dapat dibayangkan apabila Indonesia berhasil mengolah keseluruhan hasil produksi bauksit dalam negeri menjadi aluminium, keuntungan ekspor Indonesia  bisa melesat sampai 10 kali lipat. 

Sampai saat ini, Kementerian ESDM mencatat baru ada empat smelter pengolahan bauksit menjadi alumina (sebelum menjadi aluminium) yang beroperasi dengan daya tampung maksimal 9,6 juta ton bijih bauksit. Maka dari itu, pembangunan smelter bauksit agar bisa menjadi aluminium memang perlu segera dibangun.  

Kondisi ini tentu menunjukkan rencana pelarangan ekspor bauksit memang harus segera diberlakukan, serta diikuti dengan kesiapan smelter dalam negeri yang masih belum cukup menampung keseluruhan produksi bijih bauksit. 

Maka dari itu, Irwandy menekankan, perkembangan pembangunan smelter bauksit seharusnya dipercepat. Kenapa? Bila pelarangan ekspor bisa diberlakukan, maka artinya Indonesia harus mengolah seluruh produksi bijih bauksit.

Sebagai informasi, pemerintah menargetkan akan ada sekitar 12 smelter bauksit yang beroperasi hingga 2024 mendatang. Dengan demikian, diharapkan smelter yang ada bisa menampung secara keseluruhan produksi bauksit di dalam negeri sehingga bisa menghasilkan keuntungan bagi pertumbuhan ekonomi negara. 

Mungkin kalian suka baca :

Artikel Terbaru

Artikel Populer