Minggu, Juni 16, 2024
Ilmu TambangTambang Bawah Tanah, Demi Efisiensi dan Keamanan Pertambangan

Tambang Bawah Tanah, Demi Efisiensi dan Keamanan Pertambangan

Tambang bawah tanah – Pada akhir tahun 2021 lalu, masa penambangan terbuka PT Freeport Indonesia (PTFI) berakhir. Kini memasuki babak baru dengan metode penambangan bawah tanah.

Penambangan bawah tanah ini jauh lebih rumit dengan risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan penambangan terbuka.

Namun, PTFI percaya mampu melakukan penambangan bawah tanah itu dengan dukungan sumber daya manusia (SDM) serta teknologi modern yang canggih.

Keputusan mengganti metode penambangan diambil bukan karena cadangan mineral sudah habis, tetapi karena wilayah bukaan tambang sudah terlalu besar dan dalam.

Sehingga jika diteruskan menggunakan penambangan terbuka maka tidak akan efisien dan meningkatkan risiko dalam bekerja.

Saat ini, PTFI memiliki empat tambang bawah tanah yang sudah beroperasi. Pertama, tambang DOZ yang sudah beroperasi, DMLZ, Big Gossam dan Grasberg Block Cave (GBC) yang merupakan tambang di bawah open pit Grasberg.

Baca Artikel  Sektor Tambang Mendorong Ekonomi Nasional

Penambangan bawah tanah bukan bebas dari dampak efek samping. Di satu sisi, yaitu berkurangnya produksi PTFI. Di sisi lainnya, dapat memicu bencana longsor, gas beracun dan gempa bumi.

Untuk itu PTFI memitigasi risiko dengan memasang sistem pemantauan getaran seismik, yang bila melebihi tracehold 1,3 magnitude akan ada perintah evakuasi pekerja. Hal lainnya adalah penerapan manajemen air dalam tambang.

Penggunan teknologi terkini oleh PTFI di penambangan bawah tanah, yaitu tidak menggunakan truk lagi.

Tetapi menggunakan kereta listrik tanpa awak yang dikendalikan jarak jauh oleh operator di luar area pertambangan bawah tanah.

Kehadiran kereta listrik tanpa awak tentu dapat meminimalisir adanya korban jiwa, apabila terjadi kecelakaan saat bekerja.

Baca Artikel  Ini 5 Keuntungan Memilih Kerja di Pertambangan

Baca Juga: Gempuran Rusia ke Ukraina Memanas, Saham Tambang Melambung

Pengendalian kereta disebut sistem loader, yaitu melalui kendali jarak jauh dan autonomous device dan bergerak secara melingkar sekitar 27 km.

Sistem autonomous device ini digunakan di tambang DOZ, GBC dan DMLZ untuk menghindari bahaya lumpur basah.

Diharapkan melalui penambangan bawah tanah dan penerapan teknologi terkini, PTFI akan menghasilkan SDM berkualitas yang mampu membuat Indonesia mandiri dan berdaulat di sektor pertambangan.

Mungkin kalian suka baca :

Artikel Terbaru

Artikel Populer