Di Asia Tenggara, misalnya, di mana kebutuhan energi diproyeksikan hingga 80 persen, batubara akan menjadi sumber energi tunggal terbesar dalam bauran energi di kawasan ini, karena jumlahnya yang melimpah dan terjangkau.
“Kita tidak bisa menutup mata dan mengabaikan begitu saja tentang batubara,” ujar Le Galudec.
“Kita masih akan membutuhkannya karena batubara adalah sumber energi dalam kehidupan. Yang perlu kita lakukan saat ini adalah mencapai target emisi, dan kita juga perlu membentuk generasi berbasis batubara modern, yang nantinya akan bertanggung jawab membuat kemungkinan penggunaan maksimum dari semua panas bahan bakar.”
- Batubara Sudah Diakui Sejak Dulu Akan Mampu Menjadi Salah Satu Sumber Energi Listrik Terkuat.
Dahulu ketika Thomas Edison membangun pembangkit listrik pertama di dunia yang berpusat di Pearl Street, pusat kota Manhattan, pada tahun 1892, yang dibuat adalah pembangkit uap turbin.
Pembangkit ini mulai beroperasi hanya dua tahun setelah Pearl Street Station berdiri dan hanya mengubah 1,6 persen dari panas batubara yang menjadi listrik.
Kinerja tersebut telah meningkat dari waktu ke waktu, dan mencapai 20 persen lalu kemudian efisiensinya mencapai 30 persen.
“Efisiensi konversi batubara menjadi hal baru yang perlu diteliti. Pembangkit listrik akan lebih efisien bila menggunakan lebih sedikit bahan bakar dan memancarkan karbon dioksida yang lebih sedikit, sehingga tak merusak iklim,” tulis para peneliti yang tercantum di laporan Badan Energi Internasional pada pengukuran kinerja PLTU.
- Batubara Diklaim Menjadi Salah Satu Sumber Energi Yang Paling Efisien.
Saat ini, tingkat efisiensi global rata-rata pembangkit listrik tenaga batubara naik dari 33 persen menjadi 40 persen.
Tingkat efisiensi dihasilkan karena telah mengerahkan teknologi yang lebih canggih dan bisa mengurangi karbon dioksida (CO2) setiap tahun hingga 2 giga ton, atau setara dengan emisi CO2 tahunan di India.




