Minggu, Mei 26, 2024
Berita TambangDampak Perang Rusia-Ukraina Terhadap Sektor Tambang Indonesia

Dampak Perang Rusia-Ukraina Terhadap Sektor Tambang Indonesia

Dampak perang Terhadap Sektor Tambang – Pada Kamis (24/2), harga minyak mentah jenis Brent menembus ke level US$ 100 per barel dan berada di posisi tertinggi sejak 2014.

Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) hampir menyentuh level US$ 100 per barel.

Padahal sedang terjadi perang antara Rusia-Ukraina, perang di kawasan Eropa Timur itu justru memicu harga minyak mentah acuan melonjak tajam.

Meskipun secara tidak langsung dan hanya bersifat sementara, kenaikan harga minyak tersebut berpotensi mendorong investasi yang akan berdampak positif pada sektor energi Indonesia.

Karena mayoritas investasi di industri migas itu sifatnya jangka panjang seperti eksplorasi, program Enchanced Oil Recovery (EOR), maka para investor cenderung belum mengambil sikap. 

Baca Artikel  Penjelajah Ini Masuki Tambang Tua di Inggris, Temukan Apa?

Kenaikan investasi ini akan mendorong pendapatan negara dari penjualan migas, meskipun tetap dibayangi kenaikan nilai impor minyak dan BBM yang dapat meningkatkan anggaran subsidi.

Untuk itu, pemerintah telah melakukan identifikasi fasilitas industri migas dalam negeri, yang dapat dijadikan cadangan operasional.

Sementara stok BBM masih berada dalam kondisi aman. Selain itu, Pertamina tercatat memiliki fleksibilitas yang tinggi dalam pemenuhan kebutuhan bahan baku maupun BBM.

Sedangkan pasar ekspor batubara berpotensi tidak mengalami gangguan karena 98% ekspor batubara Indonesia ditujukan ke negara-negara Asia Pasifik.

Baca Juga: 4 Bekas Tambang Ini Disulap Jadi Wisata Cantik

Namun jika ekspor batubara Rusia ke Tiongkok, Jepang dan Taiwan terhambat maka kemungkinan ada tambahan permintaan dari negara-negara tersebut.

Baca Artikel  Mengenal Kegiatan Eksplorasi Batubara : Logging Geofisika

18% pasar ekspor batubara dunia dikuasai Rusia. Pada 2020 Rusia mengekspor 198 juta ton batubara dengan nilai mencapai US$ 12,4 miliar. Sedangkan sepanjang 2021 mencapai 211,68 juta ton.

Apakah ini tanda positif peluang bagi sektor tambang dan energi Indonesia?

Mungkin kalian suka baca :

Artikel Terbaru

Artikel Populer