Jumat, Maret 1, 2024
Ilmu TambangKilas Balik Sejarah Pertambangan dan Energi Tanah Air

Kilas Balik Sejarah Pertambangan dan Energi Tanah Air

Sejarah Pertambangan dan Energi Tanah Air – Pada 1652 ilmuwan Eropa mulai melakukan penyelidikan berbagai aspek ilmu alam.

Kemudian pada 1850, Pemerintah Hindia Belanda membentuk Dienst van het Mijnwezen (Mijnwezenn-Dinas Pertambangan) yang berkedudukan di Batavia untuk lebih mengoptimalkan penyelidikan geologi dan pertambangan supaya semakin menjadi lebih terarah.

Menjelang 1920, Pemerintah Hindia Belanda menjadikan Bandung sebagai ibukota Hindia Belanda dan memindahkan kantor Mijnwezen ke Bandung.

Mijnwezen menempati Gedung Sate dan membawahi Departement Burgerlijke Openbare Werken (Departemen Pekerjaan Umum).

Lalu pada 1922, Mijnwezen ini berganti nama menjadi Dienst van den Mijnbouw.

Pada 16 Mei 1929 Pemerintah Hindia Belanda meresmikan gedung Geologisch Laboratorium yang terletak di jalan Wilhelmina Boulevard untuk kantor Dienst van den Mijnbouw.

Baca Artikel  Yuk Kenali Apa Itu Deep Sea Mining!

Lalu gedung ini menjadi tempat penyelenggaraan Pacific Science Congress ke IV. Gedung ini sekarang bernama Museum Geologi, yang beralamat di jalan Diponegoro No. 57 Bandung. 

Kemudian hari gedung tersebut menjadi tempat pendidikan Assistant Geologen Cursus (Kursus Asisten Geologi), yang diikuti oleh hanya beberapa orang saja di antaranya, Raden Soenoe Soemosoesastro dan Arie Frederik Lasut. 

Dua peserta pribumi tersebut kemudian menjadi pegawai menengah pertama di kantor Mijnbouw sejak tahun 1941 yang di kemudian hari menjadi tokoh perjuangan dalam membangun kelembagaan tambang dan geologi nasional.

Pada Jumat 28 September 1945, pukul 11.00 WIB Raden Ali Tirtosoewirjo, Arie Frederik Lasut (A.F. Lasut), R. Soenoe Soemosoesastro dan Sjamsoe M. Bahroem mengambil alih secara paksa kantor Chisitsu Chosasho dari pihak Jepang. 

Baca Artikel  Membidik Peluang Lahan Eks-Tambang untuk Kebangkitan Ekonomi

Baca Juga: Menteri BUMN, Erick Thohir Dorong Gasifikasi Batubara

Sejak saat itu, nama kantor diubah menjadi Pusat Jawatan Tambang dan Geologi. Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Pertambangan dan Energi.

Lalu A.F. Lasut ditunjuk sebagai Kepala Jawatan Tambang dan Geologi Indonesia Pertama. Untuk menghindari pihak Belanda, Kantor Jawatan terpaksa berpindah ke Tasikmalaya, Magelang dan Yogyakarta.

A.F. Lasut adalah anak muda yang tegas dan menolak bekerjasama dengan Belanda. Pada 7 Maretr 1949 Lasut diculik oleh Belanda dan dibunuh di daerah Sekip, saat ini masuk wilayah Kampus Universitas Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya, A.F. Lasut kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Mungkin kalian suka baca :

Artikel Terbaru

Artikel Populer