Berbeda dengan teknik-teknik sebelumnya, tidak terjadi penumpukan karbon pada serium bila menggunakan proses ini. Karbon terbentuk menjadi serpihan hitam kecil yang kemudian lepas dan turun ke samping dan dasar tabung. Dengan demikian, produksi karbon padat bisa terus dilanjutkan.
Salah satu anggota tim peneliti RMIT, Dr Torben Daeneke mengungkapkan kelebihan dari temuan timnya ini.
Torben mengatakan, selama ini karbon dioksida hanya diubah menjadi padat pada temperatur yang sangat tinggi, sehingga tidak dapat dilaksanakan secara industri.
“Dengan menggunakan logam cair sebagai katalis, kami telah membuktikan bahwa mengubah gas menjadi karbon dapat dilakukan pada suhu ruangan, dalam sebuah proses yang efisien dan bisa diperbesar skalanya,” ujar Torben.
Selain Tarbon, penulis utama studi, Dr Dorna Esrafilzadeh juga menjelaskan, karbon yang terbentuk melalui teknik ini bisa digunakan sebagai elektroda karena mampu menyimpan energi litrik.
“Kelebihan sampingan dari proses ini adalah karbonnya dapat menyimpan energi listrik, (sehingga) menjadi sebuah kapasitor super yang berpotensi untuk digunakan sebagai komponen dalam kendaraan masa depan,” kata Dorna.
Dorna melanjutkan, proses ini juga menghasilkan bahan bakar sintetis sebagai produk sampingan yang mungkin juga memiliki aplikasi industri.




