Minggu, April 14, 2024
Berita TambangSetelah Nikel, Aluminium Siap Berikan Cuan Bagi RI!

Setelah Nikel, Aluminium Siap Berikan Cuan Bagi RI!

Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi Septian Hario Seto mengatakan, Indonesia berpotensi mendapat keuntungan berkali-kali lipat dari program hilirisasi produk mineral aluminium yang saat ini tengah digencarkan. 

Bahkan sampai saat ini, Seto menyebut pembangunan proyek smelter aluminium untuk kapasitas 500 ribu ton per tahun di Kalimantan Utara tengah berjalan.

“Sudah ada beberapa automotive company yang tertarik melakukan offtake (membeli) terhadap aluminium produk dalam negeri” ungkapnya, Rabu (28/9/2022).

Seto menilai, industri aluminium di dalam negeri bisa berkembang untuk ke depannya. Apalagi, lanjutnya, tidak hanya ada di Kalimantan Utara saja, namun smelter aluminium juga sudah ada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.

Seperti diketahui, aluminium merupakan produk jadi dari bahan mineral bauksit. Saat ini Pemerintah Indonesia masih mengizinkan ekspor bauksit. Kendati demikian, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah menegaskan berkali-kali bahwa pemerintah akan segera menghentikan ekspor bahan mentah, termasuk komoditas bauksit.

Kebijakan tersebut tentu bukan tanpa alasan, Presiden menginginkan proses pengolahan dan pemurnian bauksit hingga menjadi aluminium dan produk turunan lainnya terjadi di dalam negeri sehingga nilai tambah dirasakan masyarakat Indonesia, seperti halnya nikel.

Jokowi menyebut, karena adanya pelarangan ekspor bijih nikel sejak 1 Januari 2020 dan hanya ekspor produk hasil hilirisasi, pendapatan negara melejit signifikan dari yang sebelumnya hanya US$ 1,1 miliar atau Rp 15 triliunan pada tahun 2017-an menjadi US$ 20,9 miliar atau Rp 360 miliar pada tahun 2021. Cukup menjanjikan bukan? 

Melihat keberhasilan pengolahan nikel di dalam negeri, Jokowi ingin bauksit bisa diolah menjadi produk aluminium yang biasa digunakan untuk keperluan konstruksi/ bangunan, peralatan mesin, transportasi, kelistrikan, kemasan, barang tahan lama, dan lainnya. 

Baca Artikel  Barang Tambang Ini Melimpah di RI, Bahkan Jadi Rebutan Dunia

Apabila melihat cadangan nikel dalam negeri, merujuk data Booklet Bauksit 2020 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), jumlah cadangan bauksit Indonesia mencapai 1,2 miliar ton atau 4% dari cadangan bijih bauksit dunia yang sebesar 30,39 miliar ton.

Adapun pemilik cadangan bijih bauksit terbesar di dunia yaitu Guinea mencapai 24%, lalu Australia menguasai 20%, Vietnam 12%, Brazil 9%, dan kemudian di peringkat kelima ada Jamaika 7%.

Bila Indonesia benar-benar mengolah bauksit menjadi produk jadi siap pakai tersebut, maka bisa dibayangkan nilai tambah yang dihasilkan negeri ini akan jauh berlipat-lipat dibandingkan hanya memproduksi dan menjual barang mentah bauksit ini. 

Mungkin kalian suka baca :

Artikel Terbaru

Artikel Populer