Simak Cerita Wanita Tangguh di Balik Alat Berat Tambang

Chris melanjutkan, para perempuan ini juga memperoleh penghasilan yang sama dengan rekan kerjanya yang berjenis kelamin laki-laki. Ia menyebutkan, meskipun bekerja di perusahaan tambang, namun tidak ada diskriminasi berdasarkan pada jenis kelamin di PT Freeport Indonesia.

Sementara itu, salah seorang pekerja perempuan bernama Theodora Mayor, berusia 29 tahun asal Biak, mengungkapkan, dirinya merasa canggung dan kurang percaya diri ketika pertama kali belajar mengoperasikan alat-alat berat tersebut.

“Awalnya saya gugup karena saya berasal dari latar belakang yang sama sekali non-tambang. Selain itu,saya juga tidak memiliki pengalaman teknis operasi tambang maupun di lapangan. Tapi rekan-rekan operator laki-laki di sini sangat membantu dan menerima kami dengan senang hati. Mereka juga membantu mengajari tata cara melakukan pengoperasian harian konsol-konsol ini, jadi kami memang benar-benar didukung oleh lingkungan yang sangat suportif,” ujar Theodora

Baca Artikel  Jejak Sejarah Penambang Emas dari Sulsel di Afrika

Adapun operator perempuan lain berusia 25 tahun bernama Delince Tabuni, yang berasal dari suku Dani dan lahir di Tembagapura, juga mengungkapkan rasa bangganya karena bisa melakukan pekerjaannya dengan mahir. 

“Saya sangat bangga karena sekarang kami dapat membuktikan kepada orang-orang bahwa kami para perempuan dapat melakukan pekerjaan penting yang didominasi laki-laki sebaik yang mereka lakukan” pungkas Delince.