Minggu, Mei 26, 2024
MinerbaBatubaraCoking Coal, Alternatif Batubara Bersih di Masa Depan

Coking Coal, Alternatif Batubara Bersih di Masa Depan

Coking Coal – Cadangan batubara Indonesia sebesar 41 miliar ton dan diperkirakan berumur 80 tahun. Cadangan batubara Indonesia sebagian termasuk jenis yang memiliki kalori tinggi, tetapi sebagian besar termasuk jenis batubara yang berkalori rendah.

Pada 2020 produksi batubara nasional tercatat mencapai 563,73 juta ton, turun 8,5% dibandingkan produksi pada 2019 yang mencapai 616,16 juta ton. Sementara ekspor batubara pada 2020 mencapai 405,05 juta ton, turun 11% dari ekspor 2019 yang sebanyak 405,05 juta ton.

Hingga Desember 2020, sumber daya batubara Indonesia tercatat sebanyak 143,73 miliar ton. Sementara cadangan batubara sebanyak 38,81 miliar ton.

Meski demikian, pada 2020 Indonesia mengimpor batubara sebanyak 8,76 juta ton. Impor ini naik 18,5% dibandingkan impor pada 2019 yaitu sebanyak 7,39 juta ton.

Baca Artikel  Kenali Lapisan Tanah di Lahan Tambang Batubara

Indonesia melakukan impor batubara karena spesifikasi batubara yang dibutuhkan tidak ada atau kalaupun ada, jumlahnya pun sangat sedikit.

Batubara yang diimpor ini umumnya ditujukan untuk industri baja, yang memerlukan batubara berkadar tinggi (high rank coal) atau dikenal dengan coking coal. Sementara batubara yang diproduksi Indonesia pada umumnya adalah batubara termal yang digunakan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Coking coal di Indonesia belum banyak diproduksi dan masih dalam tahap pengembangan karena tidak semua jenis batubara dapat dijadikan coking coal.

Coking coal merupakan batubara yang memiliki komponen yang khusus, berupa bahan yang sangat keras dan memiliki porositas serta karbon yang cukup tinggi kemudian diproses pada temperatur yang tinggi.

Baca Artikel  Simak Upaya Pemerintah Wujudkan Teknologi Bersih Batubara

Coking coal berpeluang menjadi produk unggulan dan dapat dijadikan alternatif batubara bersih yang dapat mengurangi partikel polutan yang terdapat di dalam batubara.

Tantangannya adalah lokasi batubara yang dapat dijadikan alternatif batubara bersih terdapat pada daerah yang jauh dari permukaan pada kedalaman tanah. Hal tersebut tentunya membutuhkan biaya penambangan yang lebih tinggi.

Hal tersebut mulai diperhatikan karena permintaan batubara berkalori tinggi ini diyakini terus meningkat. Akibat pertumbuhan industri baja, konstruksi dan manufaktur diperkirakan akan terus meningkat karena pengembangan infrastruktur yang semakin pesat.

Mungkin kalian suka baca :

Artikel Terbaru

Artikel Populer