Senin, April 15, 2024
Berita TambangDampak Program Hilirisasi Tambang, Neraca Perdagangan RI Positif

Dampak Program Hilirisasi Tambang, Neraca Perdagangan RI Positif

ilmutambang.com – Pemerintah Indonesia mengakui nilai tambah dari program hilirisasi produk tambang mentah sudah menunjukkan hasil yang positif.

Selain pendapatan negara dari sektor pertambangan makin besar pada tahun 2022 kemarin, neraca dagang juga berbalik positif dengan sejumlah mitra kuat.

Pemerintah juga memastikan nilai tambah itu berpotensi untuk terus tumbuh seiring dengan target sejumlah pembangunan pabrik pemurnian dan pengolahan mineral logam yang diharapkan rampung pada 2024.

Misalnya, pengerjaan smelter konsentrat tembaga di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE, Gresik, Jawa Timur yang pengerjaannya dipercepat selepas pelandaian pandemi tahun ini.

Baca Artikel  “Coal is Back”, Batubara Bikin Neraca Perdagangan RI Surplus

Setelah smelter Gresik beroperasi nanti, baru akan kelihatan berapa nilai tambah dari tembaga yang sudah lebih dari 50 tahun diekspor mentahan, juga dengan bauksit.

Potensi program hilirisasi tambang berdampak positif pada kinerja neraca perdagangan Indonesia dengan sejumlah negara besar seperti India, China hingga Amerika Serikat.

Misalnya dengan China, neraca dagang Indonesia sempat defisit hingga US$13 miliar pada 2014 lalu. Namun pada 2021 neraca dagang dengan China menciut di angka US$2,4 miliar.

Pada pertengahan tahun ini, pemerintah memastikan neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat sudah surplus di angka US$14,4 miliar

Baca Artikel  Hilirisasi Bahan Tambang, Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat

Untuk itu, pemerintah menargetkan tambahan 7 pabrik pemurnian dan pengolahan mineral logam dapat beroperasi pada akhir tahun ini. Dengan demikian, total smelter yang bakal efektif beroperasi hingga akhir tahun ini mencapai 28 unit, ini untuk mempercepat upaya hilirisasi komoditas mineral dan logam dalam negeri.

Total investasi yang dibutuhkan untuk mempercepat pembangunan smelter hingga 2023 mencapai US$30 miliar, setara dengan Rp437,1 triliun. Rencana anggaran itu naik 36,3 persen dari posisi awal yang dipatok sebesar US$22 miliar atau setara dengan Rp320,54 triliun pada 2021.

Demikian penjelasan mengenai perkembangan pembangunan program hilirisasi dan tantangannya ke depan bagi Indonesia.

Mungkin kalian suka baca :

Artikel Terbaru

Artikel Populer