Kedua, underground coal gasification (UCG) penjajakan sudah dilakukan oleh tiga perusahaan, yakni;
(1) PT Kideco Jaya Agung di Kalimantan Timur (pilot plant)
(2) PT Indominco di Kalimantan Timur
(3) PT Medco Energi Mining International (MEMI) dan Phoenix Energy Ltd/ di Kalimantan Utara.
Investasi untuk proyek UCG diproyeksi 30%-40% lebih rendah dibandingkan gasifikasi di permukaan. Investasi sendiri berkisar US$ 600 juta-US$ 800 juta
Ketiga, pembuatan kokas. Proyek ini sudah dijajaki oleh PT Megah Energi Khatulistiwa (MEK) dengan produk semi cokes dan coal tar. Nilai investasi diperkirakan US$ 200 juta – US$ 400 juta,
Keempat, peningkatan mutu batubara (coal upgrading) yang sudah dilakukan oleh PT ZIG Resources Technology. Investasi untuk proyek ini sekitar US$ 80 juta-US$ 170 juta.
Kelima, pembuatan briket batubara. Proyek ini senilai US$ 15 juta atau sekitar Rp 200 miliar dan sudah tahap komersial.
Perusahaan yang sudah mengerjakannya adalah PBA dan PT Thriveni.
Keenam, pencairan batubara (coal liquafaction). Proyek diperkirakan sebesar US$ 2 miliar-US$ 4 miliar. Sayangnya sampai sekarang belum ada perusahaan yang mengusulkan untuk menggarap proyek ini.
Ketujuh, coal slurry/coal water mixture. Investasi proyek sekitar US$ 200 juta – US$ 320 juta. Proyek ini juga masih belum ada perusahaan yang mau mengusulkan.




