Kadar REE dalam fly ash batubara diindikasikan 10 kali lebih besar dibandingkan di dalam batubara itu sendiri (Seredin dan Finkelman, 2008).
Di Indonesia, penelitian terhadap REE dalam batubara masih sangat terbatas. Penelitian yang dilakukan terhadap batubara Bangko Sumatera Selatan menunjukkan bahwa batubara tersebut memiliki kadar REE sebesar 2,4 hingga 118,4 ppm (Anggara, dkk, 2018).
Dengan asumsi kadar REE dalam fly ash 10 kali lipat kadar REE dalam batubara, maka potensi REE dalam fly ash batubara Bangko diperkirakan bisa mencapai sekitar 1000 ppm.
Jumlah yang cukup besar dan menjanjikan untuk diekstrak secara komersial. Selain itu, proses ekstraksi REE dari fly ash batubara bisa meningkatkan nilai tambah batubara.
Ekstraksi REE dari FABA merupakan salah satu program hilirisasi yang saat ini menjadi program nasional Pusat Sumberdaya Mineral, Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Untuk mewujudkan hal tersebut, saat ini PSDMBP tengah melakukan studi terkait potensi REE dalam batubara Indonesia.
Studi dilakukan bekerjasama dengan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada dan Pusat Kajian Sumberdaya Bumi Non-Konvensional (atau juga disebut Unconventional Geo-Resources Research Group – UGRG UGM).
Hasil studi diharapkan dapat mengungkap potensi REE dalam batubara Indonesia serta membuka peluang peningkatan nilai tambah batubara, dan peningkatan pendapatan negara melalui produksi REE dari batubara Indonesia.
Lebih jauh, produksi REE juga berarti membuka peluang berdirinya berbagai industri modern di Indonesia yang artinya juga membuka banyak lapangan kerja baru.




