Pertama, teori in-situ yakni batu bara terbentuk dari tumbuhan atau pohon yang berasal dari hutan di mana batu bara tersebut terbentuk.
Batu bara yang terbentuk sesuai dengan teori in-situ biasanya terjadi di hutan basah dan berawan.
Sehingga pohon-pohon di hutan tersebut pada saat mati dan roboh, langsung tenggelam ke dalam rawa tersebut.
Dan sisa tumbuhan tersebut tidak mengalami pembusukan secara sempurna, dan akhirnya menjadi fosil tumbuhan yang membentuk sedimen organik.
Kedua, teori drift yakni batu bara terbentuk dari tumbuhan atau pohon yang berasal dari hutan yang bukan di tempat di mana batu bara tersebut terbentuk.
Batu bara yang terbentuk sesuai dengan teori drift biasanya terjadi di delta-delta, mempunyai ciri-ciri lapisan batubara tipis, tidak menerus (splitting), banyak lapisannya (multiple seam), banyak pengotor (kandungan abu cenderung tinggi).
Proses pembentukan batu bara terdiri dari dua tahap yaitu tahap biokimia (penggambutan) dan tahap geokimia (pembatubaraan).
Tahap pembatubaraan (coalification) merupakan gabungan proses biologi, kimia, dan fisika yang terjadi karena pengaruh pembebanan dari sedimen yang menutupinya, temperatur, tekanan, dan waktu terhadap komponen organik dari gambut.
Kedua teori ini menegaskan bahwa asal dari batu bara adalah tumbuh-tumbuhan meskipun cara pembentukannya yang berbeda.
Jelas secara garis besar baik pendekatan teoritis dan bagaimana Al-quran memandang batu bara tidaklah jauh berbeda.




