Ada lima Pokja yang dibentuk nantinya. Berikut rinciannya:
1). Pertama, pokja sumber daya batubara.
2). Kedua, pokja infrastruktur batubara dan infrastruktur produk hilir.
3). Ketiga, pokja kesiapan teknologi kelayakan ekonomi dan lingkungan proses hilirisasi.
4). Keempat, pokja dukungan kebijakan dan skema kerjasama.
5). Kelima, pokja kesiapan strategi pemasaran produk hilirisasi.
Para pelaku usaha batubara diharapkan dapat bertransformasi nantinya dengan tak lagi hanya mencuat batubara mentah ke PLTU.
Tetapi para pelaku usaha juga diharapkan bisa menjual produk hilirisasi dengan nilai tambah bagi industri.
Sebagai informasi, pada tahun 2024 ditargetkan ada sekitar 13 juta ton kapasitas input batubara.
Nilai jual Dimethyl Ether (DME) dan produk hilirisasi batubara ditaksir mencapai sekitar US$ 600 juta per tahun, yang juga meliputi produk gasifikasi, coke making, coal upgrading dan briket batubara.
Proyek batubara menjadi Dimethyl Ether (DME) ditargetkan sudah mulai beroperasi dan dapat direalisasikan antara tahun 2024 atau 2025, dengan produksi sekitar 2,8 juta – 3 juta ton.
Produksi Dimethyl Ether (DME) tersebut berasal dari proyek hilirisasi yang digarap oleh PTBA juga dari Bakrie Group melalui PT Kaltim Prima Coal (KPC).
Sudah ada 4 proyek hilirisasi dalam bentuk gasifikasi batubara yang dijajaki oleh empat perusahaan. Keempat proyek tersebut adalah sebagai berikut:
- Coal to DME PTBA yang bekerjasama dengan Pertamina dan Air Product.
Estimasi operasi komersial (COD) pada tahun 2025 dengan feedstock batubara sebanyak 6,5 juta ton per tahun.




