Senin, April 15, 2024
MinerbaBatubaraRusia Berulah, Harga Batubara Hampir Cetak Rekor Tertinggi!

Rusia Berulah, Harga Batubara Hampir Cetak Rekor Tertinggi!

Rusia Berulah, Harga Batubara Hampir Cetak Rekor Tertinggi!

Harga batubara terus melambung dan semakin mendekati rekor tertinggi pada perdagangan Senin (22/8/2022), harga batu kontrak September di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 445,5 per ton. Harga batubara menguat 0,39% dibandingkan Jumat pekan sebelumnya.

Harga tersebut hanya berjarak S$ 0,5 dari rekor tertingginya pada 2 Maret 2022 (US$ 446 per ton).

Melambungnya harga batubara sampai Senin kemarin memperpanjang tren positif batubara yang sudah berlangsung dalam dua pekan. Sejak 8 Agustus, harga batubara terus menguat.

Baca Lainnya: Meski Lesu, Batubara Masih Perkasa di Atas US$400 per Ton

Secara keseluruhan, harga batubara sudah melonjak 8,5% dalam sepekan secara point to point. Dalam sebulan, harga batubara bahkan melesat 11,6%, sementara dalam setahun terbang 174,6%.

Baca Artikel  Bangkit! Harga Batubara Melonjak Hampir 6%

Penguatan batubara dipicu oleh sejumlah faktor, salah satunya diakibatkan oleh lonjakan harga gas di Eropa akibat kebijakan Rusia. 

Harga gas Eropa kembali melambung kemarin setelah perusahaan gas Rusia Gazprom mengumumkan akan kembali memutus aliran gas ke Eropa melalui jaringan Nord Stream 1 selama tiga hari mulai 31 Agustus-2 September 2022.

Perusahaan Rusia tersebut beralasan pemutusan jaringan gas demi alasan perawatan. Namun, tidak sedikit yang menduga jika langkah tersebut adalah bagian strategi Rusia untuk melemahkan negara-negara Eropa.

Keputusan Gazprom pun langsung berimbas dan menimbulkan kepanikan di pasar. Harga gas alam EU Dutch TTF (EUR) pada Senin (22/08/2022) naik lebih dari 30% dan sempat melambung ke rekor tertingginya di 292 euro per megawatt-jam (MWh). Pemutusan aliran gas akan semakin memperparah krisis gas di Eropa. 

Baca Artikel  Proses Pembentukan Batubara Disebut di Al-Quran

Batubara merupakan sumber energi alternatif bagi gas jika harganya ikut melonjak. Akibat krisis ini pula, akhirnya negara-negara Eropa seperti Jerman kembali memutuskan menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan membutuhkan batubara untuk mengoperasikan PLTU. 

Mungkin kalian suka baca :

Artikel Terbaru

Artikel Populer