Senin, Mei 27, 2024
MinerbaBatubaraHilirisasi Batubara Jadi Grafit Sintetik Berpotensi Tinggi

Hilirisasi Batubara Jadi Grafit Sintetik Berpotensi Tinggi

Hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian ESDM mengungkapkan jika hilirisasi batubara jadi grafit sintetik memiliki potensi yang tinggi untuk digunakan menjadi bahan baku utama anoda baterai.

Pihak Kementerian ESDM mengatakan, selama ini hanya ada dua negara produsen utama di dunia yakni, Cina dan Brazil.

Sebanyak 83 persen grafit berasal dari kedua negara tersebut, namun tidak semuanya bisa digunakan tergantung dari kualitas serta kemurniannya.

Anoda baterai sering kali dimanfaatkan oleh industri elektronik untuk membuat ponsel, laptop hingga kendaraan listrik.

Dalam rangka transisi energi, kini kendaraan listrik menarik banyak perhatian, sehingga jika Indonesia mengembangkan potensi anoda baterai dari batubara lewat hilirisasi tambang akan sangat menguntungkan.

Baca Artikel  Pentingnya Prinsip Konservasi dalam Ilmu Pertambangan

Kementerian ESDM menyampaikan jika batubara dengan kalori rendah cocok untuk dijadikan anoda baterai. Jumlah batubara dengan kalori rendah sangatlah melimpah di Indonesia, sehingga sangat berpotensi diolah menjadi grafit sintetik. 

Kendati demikian, ada kendala utama seperti masalah biaya untuk melakukan produksi. Diperkirakan jika biaya produksi grafit bisa sepuluh kali lipat lebih mahal, jika dibandingkan dengan produksi grafit alam.

Di pasar internasional grafit sintetik memiliki harga yang tergolong tinggi. Kementerian ESDM akan berupaya untuk mengakali biaya produksi yang mahal, dengan mencampurkannya dengan grafit alam.

Kementerian ESDM menekankan jika prospek bagi pasar grafit sintetik tersebut sangatlah menjanjikan. Permintaan terus meningkat secara signifikan setiap tahunnya, dikatakan rata-rata peningkatan hingga 154 persen per tahunnya.

Baca Artikel  Kebijakan Perizinan Tambang Menurut UU Minerba

Baca Juga : Simak 8 ‘Ikhtiar’ Pemerintah Genjot Hilirisasi Batubara

Untuk mengembangkan potensi tersebut, pihak Kementerian ESDM pun menegaskan pentingnya penelitian lebih lanjut. Terlebih saat ini Indonesia belum memiliki tambang grafit alam yang ekonomis.

Mungkin kalian suka baca :

Artikel Terbaru

Artikel Populer