Kamis, Juli 25, 2024
Berita TambangIndonesia Diprediksi Jadi Negara Tujuan Investasi Pada 2023

Indonesia Diprediksi Jadi Negara Tujuan Investasi Pada 2023

Indonesia diprediksi jadi negara tujuan investasi — Pada 2023 akan ada 53 proyek fasilitas pemurnian (smelter) yang beroperasi.

Pengoperasian smelter tersebut memang sudah menjadi aturan pemerintah bagaimana kita sungguh-sungguh merealisasikan program hilirisasi. Hal tersebut diprediksi dapat menjadikan indonesia sebagai negara tujuan investasi.

Hal ini diperkirakan akan menarik investasi sebesar US$21,28 miliar. Diharapkan progresnya akan diakselerasi pada 2022, karena 2023 adalah batas waktu untuk izin ekspor konsentrat. 

53 proyek smelter tersebut terdiri dari 19 unit smelter existing, 13 di antaranya adalah smelter nikel. Kemudian, direncanakan pembangunan 17 smelter lainnya, sehingga total smelter nikel nantinya menjadi 36 unit dengan nilai investasi US$8 miliar. Barulah pada 2023 bertambah menjadi 53 smelter.

Baca Artikel  Inspiratif! Ini Dia Rahasia Sukses Program CSR Kideco

Dengan jumlah smelter tersebut kebutuhan listrik mencapai 5,6 GW yang berada di seluruh wilayah Indonesia. Kementerian ESDM berkomitmen menyiapkan infrastruktur yang andal untuk mendukung kebutuhan listrik tersebut.

Terdapat beberapa alasan mengapa Indonesia cocok jadi negara tujuan investasi pertambangan. Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS), cadangan nikel di Indonesia merupakan terbesar di dunia yaitu 23 persen. Begitu juga untuk produksi nikel merupakan yang terbesar di dunia.

Lalu produksi timah Indonesia yang mencapai 17 persen dari cadangan dunia atau berada pada posisi kedua, begitu pula dengan produksinya.

Komoditas pertambangan lainnya yang masuk jajaran terbesar dunia adalah bauksit yang menempati urutan ke-6 terbesar dunia untuk cadangan dan produksinya.

Baca Artikel  Kenali yuk Metode dan Teknik Penambangan Minyak Bumi!

Baca Juga : Wow! Investasi Gasifikasi Batubara Capai Rp30 Triliun

Setelah itu tembaga yang menempati posisi ke-7 untuk cadangan dan produksinya ada di posisi 12 dunia. Setelahnya ada emas yang berada di posisi ke-5 pada cadangan dan ke-6 pada produksi.

Selain itu ada juga logam tanah jarang dan lithium, namun belum dapat diproduksi karena Indonesia belum memiliki teknologi untuk memisahkan dan memurnikan komoditas tersebut.

Mungkin kalian suka baca :

Artikel Terbaru

Artikel Populer