Senin, Mei 27, 2024
Berita TambangDulu Dikucilkan, Kini Batubara Jadi Penyelamat Eropa dari Kedinginan

Dulu Dikucilkan, Kini Batubara Jadi Penyelamat Eropa dari Kedinginan

Benua Eropa saat ini tengah menghadapi musim dingin yang mencekam, tetapi masih bisa ‘hangat’ oleh batubara. Padahal sumber energi fosil ini dulu ‘diberantas’ karena memiliki tingkat emisi karbon yang cukup tinggi.

Berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA), tahun ini harga batu bara meroket tajam dikarenakan peningkatan permintaan akibat krisis energi yang terjadi di Eropa. 

Penyebab utama harga batubara meroket yaitu pemangkasan pasokan gas alam Rusia setelah menginvasi Ukraina sejak Februari lalu, dan padamnya pembangkit nuklir Prancis telah mendorong kebangkitan batubara tahun ini.

Benua Eropa sejatinya telah berinvestasi dalam energi angin dan matahari sembari secara perlahan menutup puluhan pembangkit listrik batu bara dalam satu dekade terakhir. 

Baca Artikel  Teknologi Gasifikasi Batubara Selamatkan Roda Perekonomian

Namun saat musim dingin tiba,  kala sedang mendung atau tenaga angin lemah, dan permintaan energi naik tinggi, Eropa tidak memiliki kapasitas untuk mempertahankan pasokan listrik dari sumber energi bersih tersebut. 

Dalam kondisi pasokan dari energi bersih suah, tentu harga listrik naik tajam. Tidak ada jalan lain situasi ini mendorong untuk menyalakan pembangkit berbahan bakar fosil. 

Batubara tahun ini menjadi memimpin, salah satunya karena Jerman dan negara-negara lain menghidupkan kembali pembangkit listrik, dan sebagian lain karena harga gas sangat mahal sehingga bagi perusahaan energi lebih menguntungkan untuk membakar batubara.

Penggunaan batu bara meningkat bulan ini ketika cuaca dingin membuat senyap ladang angin dan membebani sistem kelistrikan.

Baca Artikel  Ini Alasan Terbesar Batubara Sulit Ditinggalkan Secara Penuh

Berdasarkan data Ember, Think Tank di Eropa, menyebutkan dalam dua minggu pertama bulan Desember, Uni Eropa menghasilkan 22 persen listrik dari batu bara dan lignit yang juga dikenal sebagai batubara coklat (brown coal).

Angka tersebut naik dari 17 persen pada periode yang sama tahun lalu dan dari rata-rata 15 persen untuk keseluruhan tahun 2021.

Saat ini kondisi di Eropa dikabarkan memang sudah mulai membaik dengan kecepatan dan suhu angin mulai meningkat serta beberapa reaktor nuklir Prancis kembali menyala.

Tidak dapat dipungkiri, untuk memenuhi permintaan energi ketika energi terbarukan masih belum sepenuhnya dapat diandalkan, solusi yang murah dan cepat adalah batubara.  

Baca Artikel  Batubara, Pembangkit Rendah Emisi Diincar Banyak Negara

Eropa diperkirakan akan kembali mengonsumsi lebih banyak batubara untuk tahun kedua beruntun, bahkan sebelum musim dingin bulan Januari mendatang.

Mungkin kalian suka baca :

Artikel Terbaru

Artikel Populer