Mantab! Batubara Hibrida Menjawab Permasalahan Lingkungan

Dengan latar belakang tersebut, Profesor Sasongko bersama Dr. Winny Wulandari dan Dr. Jenny Rizkiana yang juga dari FTI ITB melakukan penelitian dengan menciptakan batubara hibrida. Untuk pengolahannya, mereka mencampurkan batubara peringkat rendah dan sedang dengan limbah biomassa lalu mengkonversinya menjadi batubara hibrida.  

Batubara hibrida ini dibuat dengan mencampurkan partikel batubara dan biomassa dengan menggunakan perekat. Selanjutnya akan diproses melalui proses pirolisis pada temperatur rendah, yakni sekitar 200-300°C. 

Melalui proses ini juga, sebagian bahan volatil akan mengalami dekomposisi dan terlepas dari matriks batubara maupun biomassa sehingga nilai kalor bahan bakar padat ini lebih tinggi dibandingkan nilai kalor batubara maupun biomassa penyusunnya. 

Baca Artikel  Imbas Konflik Rusia-Ukraina, Eropa Pesan Batubara Indonesia

Di samping memiliki kalor yang tinggi, batubara hibrida ini juga mempunyai  kandungan air yang lebih rendah serta bersifat lebih hidrofobik.  

“Yang lebih menarik, emisi CO2 pada pembakaran batubara hibrida lebih rendah dibandingkan dengan batubara umpan karena CO2 yang dihasilkan pada pembakaran biomassa adalah CO2 netral,” ungkap Sasongko.

Sebelumnya, Profesor Sasongko dengan timnya juga pernah melakukan penelitian lain untuk menanggulangi dampak negatif pemrosesan batubara. Selain dilakukan secara fisik dan kimiawi, kandungan sulfur dalam batubara dapat disisihkan dari batubara secara biologik dengan memanfaatkan bakteri Thiobacillus ferrooxidans. 

“Mengingat beberapa keunggulan yang dimiliki batubara dan telah banyak upaya untuk mengatasi dampak negatifnya, Indonesia memiliki potensi untuk memberikan kontribusi pada pengembangan teknologi pemrosesan batubara ramah lingkungan di masa kini dan masa depan,” ujar Sasongko meyakini.

Baca Artikel  Pelajari Metode Sampling Batubara Agar Uji Kualitas Optimal