“Jadi aku berperan hanya membuat desain. Sementara batubara tetap dibuat si perajin. Kami berkolaborasi dengan mereka,” tutur Alvinska.
Adapun alasan Alvinska terjun ke bisnis adalah karena pasca-tambang batubara di sana ditutup, kondisi masyarakat sekitar amat memprihatinkan karena terjadi PHK besar-besaran yang membuat warga menjadi tukang ojek dan lain sebagainya.
“Saya mencoba menawarkan alternatif baru melalui perhiasan berbahan batubara sebagai penopang ekonomi mereka,” imbuhnya.
Hingga saat ini, ia bekerja sama dengan penambang yang telah di-PHK untuk membuat kerajinan dari batubara. Meski demikian, bukan hal mudah baginya menekuni bisnis ini. Sebabnya, batubara bukan hal lumrah yang digunakan sebagai perhiasan. Mengingat , batubara mengandung bahan-bahan alam yang belum tentu bagus untuk kesehatan manusia.
Untuk memastikan perhiasan batubara aman digunakan, ia turut melakukan riset serius sejak 2016. Dengan timnya ia berhasil menemukan formula yang tepat yang membuktikan jika kandungan batubara dan efeknya bagi manusia tidak berdampak dan sangat aman bagi kulit.
Kini, produk perhiasan berbahan batubara hasil karyanya banyak diminati. Pasar potensialnya ada di Bandung, Jakarta dan Bali. Selain itu, Alvinska juga menjual produknya hingga ke luar negeri. Tercatat ia pernah beberapa kali memamerkan hasil karyanya di beberapa negara.
“Sudah pernah pameran di Taiwan, Thailand dan sebentar lagi Singapura. Saya ingin mengedukasi masyarakat bahwa limbah batubara ini ternyata bisa digunakan untuk kebutuhan kita,” pungkasnya.




