Pendapatan Kalsel Terdampak Akibat Produksi Batubara Turun
Iswahyudi menyampaikan, penjualan batubara dari Banua benar-benar anjlok pada Juni 2020. Saat itu hanya sekitar 4,1 juta ton yang terjual.
“Karena saat itu corona sedang tinggi-tingginya. Selain perusahaan di Indonesia, perusahaan luar negeri juga banyak yang tidak membeli batubara,” ucapnya.
Iswahyudi juga menuturkan, penjualan batubara Kalsel ke luar negeri pasar utamanya adalah Cina. Pada triwulan II negara ini sempat menutup permintaan batubara.
Selain batubara, penjualan kelapa sawit dari Kalsel juga sempat anjlok pada pertengahan tahun 2020 kemarin. Namun, dalam beberapa bulan terakhir kondisi tersebut dapat membaik.
Kabid Perdagangan Luar Negeri pada Disdag Kalsel, Riya menyampaikan, ekspor kelapa sawit dari Kalsel di bulan itu hanya 42.650.372 kilogram atau senilai US$ 23,8 juta.
“Padahal bulan Mei, ekspor kelapa sawit mencapai 85.728.948 kilogram. Dengan nilai USD 42,3 juta,” ucap Riya.
Beruntung pada Juli ekspor kemudian meningkat, Riya menyatakan, di bulan itu ada 81.003.258 kilogram kelapa sawit yang dijual ke luar negeri. “Sedangkan nilainya mencapai US$ 34,8 juta,” pungkasnya.
Berimbas ke Pendapatan Bagi Hasil Pemprov Kalsel
Di tahun 2019, Pemprov Kalsel mendapatkan dan bagi hasil bukan pajak dari sektor Mineral dan Batubara (minerba) sebesar Rp1.034 triliun.
Tapi, di tahun 2020 ketika Pandemi Covid-19 di 2020 sektor perekonomian terguncang.
Termasuk di sektor mineral dan batubara (minerba) sangat terimbas covid-19. Karena kondisi saat ini produksi minerba jauh dari kondisi biasa.
Hal tersebut secara tidak langsung berimbas pada dana bagi hasil pusat ke daerah. Pada tahun 2020i untuk penghitungan
Dari estimasi Badan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, memperkirakan pada 2021 pengurangan dana bagi hasil di sektor minerba pajak kurang lebih Rp 300 miliar.
Kabid Pengelolaan Pajak Daerah Badan Keuangan Daerah (Bakeuda) Kalsel, H. Rustamaji, menjelaskan bahwa besaran Rp 300 miliar itu pun masih dalam bentuk perkiraan. Pada 2021 secara keseluruhan realisasi dana bagi hasil pusat Rp3,300 triliun.
“Pengurangan dana bagi hasil tersebut dipengaruhi penurunan produksi minerba pada tahun ini. Selain sektor lain seperti matinya beberapa sektor usaha dan amnesti pajak,” Ujar Rustamaji.
Pendapatan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) terdampak akibat produksi batubara turun sampai 4,3 juta ton. Penurunan produksi disebabkan oleh pandemi covid-19 yang membuat permintaan pasar akan batubara juga menurun.
“Produksi batubara mulai turun pada Mei 2020. Saat itu, emas hitam yang dihasilkan Banua hanya 4,7 juta ton. Padahal pada bulan sebelumnya (April) produksi batubara mencapai 5,5 juta ton,” Ujar Kasi Penataan dan Pengembangan Wilayah pada Dinas ESDM Kalsel, M Iswahyudi, Minggu, 3 Januari 2021.
Celakanya, pada bulan selanjutnya yakni pada Juni, produksi batubara kembali merosot. Hanya berada di angka 4,1 juta ton
“Pada bulan Juni ini ini produksi batubara Kalsel menjadi yang terendah pada tahun ini,” papar Iswahyudi.
Sedangkan pada bulan Juli, Iswahyudi menyebut produksi batubara mulai naik. Menjadi 4,3 juta ton. Agustus juga trennya masih naik, yakni 5 juta ton.
“Tapi, September turun lagi jadi 4,7 juta ton,” urai Iswahyudi kembali.
Turunnya produksi batubara tahun 2020 seiring dengan melesunya penjualan batubara. Hingga triwulan III 2020, pemasaran batubara Kalsel hanya sekitar 44,7 juta ton.
Sementara pada 2019 di periode yang sama, batubara yang terjual mencapai 50,7 juta ton.
“Jadi perbandingan triwulan satu sampai triwulan tiga 2020 dengan 2019, penjualan batubara kita turun 6 juta ton,” ucap Iswahyudi.
Iswahyudi mengungkapkan, penjualan dan produksi batubara Kalsel mengalami penurunan disebabkan oleh banyaknya perusahaan pengguna batubara yang tidak beroperasi selama pandemi Covid-19. Sehingga mengakibatkan permintaan pun ikut berkurang.
“Apalagi pada masa PSBB (pembatasan sosial berskala besar), banyak perusahaan yang memilih tutup. Jadi penjualan batubara anjlok,” ungkap Iswahyudi
Perusahaan yang biasa membeli batubara Kalsel sebagian besar dari Jawa. Seperti, pabrik kosmetik, semen, tekstil dan lain-lain.
“Perusahaan ini yang banyak tutup saat pandemi. Untungnya, permintaan dari pembangkit listrik tidak berkurang,” ujar Kasi Penataan dan Pengembangan Wilayah pada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalsel tersebut.
Iswahyudi menyampaikan, penjualan batubara dari Banua benar-benar anjlok pada Juni 2020. Saat itu hanya sekitar 4,1 juta ton yang terjual.
“Karena saat itu corona sedang tinggi-tingginya. Selain perusahaan di Indonesia, perusahaan luar negeri juga banyak yang tidak membeli batubara,” ucapnya.
Iswahyudi juga menuturkan, penjualan batubara Kalsel ke luar negeri pasar utamanya adalah Cina. Pada triwulan II negara ini sempat menutup permintaan batubara.
Selain batubara, penjualan kelapa sawit dari Kalsel juga sempat anjlok pada pertengahan tahun 2020 kemarin. Namun, dalam beberapa bulan terakhir kondisi tersebut dapat membaik.
Kabid Perdagangan Luar Negeri pada Disdag Kalsel, Riya menyampaikan, ekspor kelapa sawit dari Kalsel di bulan itu hanya 42.650.372 kilogram atau senilai US$ 23,8 juta.
“Padahal bulan Mei, ekspor kelapa sawit mencapai 85.728.948 kilogram. Dengan nilai USD 42,3 juta,” ucap Riya.




