‘Sawahlunto’ Kota Tambang Batubara Tertua di Asia Tenggara

Adapun julukan kota ini bisa dilihat dengan adanya patung rantai yang dipasang di kompleks Museum Tambang Lobang Mbah Soero.

3. Manusia Rantai

Cerita tentang manusia rantai juga menjadi hal yang sudah tidak asing lagi untuk didengar. Sebutan manusia rantai ini tidak lepas dari sejarah kelam yang ada di pertambangan. Menurut cerita masyarakat dan sejarah manusia rantai adalah julukan untuk rakyat pribumi yang kala itu menjadi pekerja tambang untuk Belanda. 

Tugas orang-orang tersebut yaitu mengangkat barang tambang dari dalam lubang dengan kedalaman belasan meter. Para pekerja melakukan penambangan dari siang hingga malam tanpa henti. Kaki mereka dirantai supaya tidak lari. 

Baca Artikel  3 Perempuan Inspiratif Indonesia di Industri Pertambangan

Jika mereka melawan, maka akan mendapat cambukan dan siksaan.Sebagai akibat dari siksaan tersebut, banyak dari pekerja jatuh sakit hingga ditaruh begitu saja di dalam lubang tambang atau yang disebut sebagai Lubang Mbah Soero. 

4. Sempat Dianggap Kota Mati

Kota Sawahlunto sempat dianggap sebagai kota mati pada sekitar tahun 2000. Ini dikarenakan batubara di kota tersebut dianggap sudah tidak bisa lagi ditambang. Sedangkan jika berbicara seputar ekonomi, Sawahlunto bergantung pada tambang batubara.

Untuk tetap bertahan, pemerintah setempat mengambil langkah dengan mengubah kota arang menjadi kota wisata. Sawahlunto pada akhirnya dipromosikan sebagai Heritage City, kota peninggalan kolonial Belanda yang dahulu terkenal sebagai pusat pertambangan.

Baca Artikel  Dump Truck Bakal Jadi Ikon Wisata Baru Sangatta