Minggu, April 14, 2024
Berita TambangSejarah Sumur Minyak Pertama Indonesia Gunakan Tenaga Sapi

Sejarah Sumur Minyak Pertama Indonesia Gunakan Tenaga Sapi

Sumur minyak pertama di Indonesia terletak di kaki Gunung Ciremai, Kota Kabupaten Cirebon. Berdasarkan catatan sejarah, beberapa wilayah di Indonesia telah dilaporkan adanya penemuan minyak mentah oleh Corps of the Mining Engineers. Mereka adalah lembaga di bawah Kerajaan Belanda pada pertengahan abad ke-19.

Berita tersebut terdengar oleh Jan Reerink, yang merupakan seorang pria dari saudagar penggilingan beras pada zaman Belanda di wilayah Cirebon.

Sebelum adanya isu tersebut Reerink telah memiliki mimpi untuk bisa bereksplorasi sumber minyak sendiri. 

Setelah mendengar isu tersebut, Reerink memulai negosiasinya dengan Nederlandsche Handel Maatschappij yang merupakan perusahaan dagang Belanda. Negosiasi tersebut bertujuan agar perusahaan tersebut dapat menyokong usaha Reerink mencari minyak.

Baca Artikel  Harga Batubara Acuan Januari Meroket ke US$ 75 Per Ton

Reerink pergi ke Amerika dan Kanda pasca negosiasinya dengan usaha dagang Belanda dan perusahaan minyak.

Kepergiannya adalah untuk mencari pegawai serta peralatan bor minyak untuk mempermudah aktivitas eksplorasinya.

Singkatnya, setelah kembali ke Indonesia Reerink membangun sebuah menara bor bergaya Pennsylvania di wilayah kaki Gunung Ciremai. Ia memasang mata bor yang digerakan secara khusus dengan bantuan beberapa ekor sapi.

Pengeboran Reerink menghasilkan empat sumur dan menghasilkan 6.000 liter minyak bumi. Sumur tersebut dianggap sebagai sumur yang memproduksi minyak bumi pertama di Indonesia.

Uniknya, sumur yang diberi nama Maja-1 atau Cibodas Tangat-1 itu adalah salah satu sumur tertua di dunia.

Hal tersebut dikarenakan adanya selang waktu 12 tahun setelah penemuan sumber minyak komersial pertama oleh Kolonel Drake dari Pennsylvania.

Baca Artikel  Huft! Investasi di Industri Pertambangan Masih Minim

Baca Juga : Inilah Wajah Setrika Batubara Pertama di Dunia

Sayangnya, upaya Reerink harus terhenti pada tahun ke-12. Terhentinya sokongan dana dari Pemerintah Hindia Belanda menjadi penyebab utamanya. 

Kini wilayah sumur tersebut menjadi area persawahan yang hijau. Sumur tersebut diberi tanda batas patok, prasasti keramik dari semen yang bertuliskan:

“Tjibodas Tangat-1, di sinilah tempat pengeboran minyak pertama di Indonesia yang dikerjakan Jan Reerink tahun 1871”

Patok tersebut dibuat oleh sebuah grup sejarah bernama Grup Majalengka Baheula (Grumala) dan diresmikan pada April 2017 lalu.

Mungkin kalian suka baca :

Artikel Terbaru

Artikel Populer